Sabtu, 20 Oktober 2012

Masalah adalah Hadiah

Masalah
Jepang adalah negara dengan konsumsi ikan paling besar. Pada suatu saat nelayan2 disana tidak mendapatkan ikan di lautan dangkal karena sudah mulai menipis. Terpaksa mereka melaut lebih jauh ke lautan dalam agar mendapat ikan lebih banyak.
Sayangnya begitu kembali tiba dipantai, ikan2 yang berhasil ditangkap pasti sudah mati. Busuk lagi. Akhirnya mereka mencari solusi agar ikan2 yang telah ditangkap tetap hidup. Dibawalah es yang banyak di kapal sehingga saat kembali ikan2 yang ditaruh dalam es tidak busuk. Namun ikan ini ditolak oleh para pembeli karena walau tidak busuk tapi juga tidak segar. Ini mah ikan beku. Lalu dicari solusi lain agar ikan2 tetap hidup ketika sampai di pantai. Dibuatlah tong2 besar yang ketika di laut dalam diisi dengan ikan2 tangkapan. Tong2 tersebut lalu ditarik dengan posisi tetap berada di air.
Ikan2 hasil tangkapan yang dibawa dengan tong masih hidup. Tapi lemas. :)
Dasar orang Jepang, masih gak puas juga karena orang sana benar2 mendambakan makan ikan yang super segar dengan menjaga kelincahan si ikan. Mungkin pengaruh ke rasanya kali ya. Maka dilakukanlah solusi lain. Yaitu memasukkan seekor ikan hiu kecil kedalam tong2 tersebut. Ikan2 hasil tangkapan sampai dipantai dengan segar dan kuat. Tetap ada yang mati tapi sangat sedikit dan pastinya tujuan tercapai : mendapat ikan super segar.
Sang hiu kecil imut itu adalah masalah.

Kisah Kelinci

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci itu berkata:
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Rubah jantan merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.
Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata :
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang serigala merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.
Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata:
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Beruang merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.
Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!!"
Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata
"Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."
The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara
The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.
Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama:
(MESKIPUN) DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK DARI KITA

Minggu, 14 Oktober 2012

Kisah Teladan

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?”  sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya??” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau” perintah sang Guru.
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. “Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid” begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali…” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
“Tentu saja,,, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutmu. Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali..” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,,,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah” Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.... Dan selalulah bisa mempunyai hati yg selalu bisa mengucap syukur untuk segala hal yg terjadi dalam hidup kita” 

Cilongok Bersholawat

Assalamu'alaikum....
Alhamdulillah.. sudah hampir setengah tahun tidak menulis pada blog tercinta ini...
Bukan karna sudah tak cinta, namun karena kecintaan akan membaca dan memposting pada blog yang lain, akhirnya blog ini sedikit terbengkalai...
Ada banyak cerita yang sebenarnya ingin sekali diceritakan, mulai dari kegiatan harian Jam'iyyah hingga kegiatan tahunan yang belum lama ini terlaksana dengan sukses, Alhamdulillah... namun waktu dan kesempatan serta mood juga yang masih jadi penghalangnya…
Sedikit yang bisa kami torehkan dalam kesempatan kali ini adalah sebuah moment ketika penulis diberi sebuah kesempatan pada acara Purbalingga Bersholawat sebagai sang juru tembak… hehehe.. juru tembak moment atau dokumentasi… alias Fotografer…
ini dia hasilnya…







Pada hari berikutnya setelah acara Purbalingga Bersholawat, alhamdulilah penulis dan kawan-kawan yang tergabung dalam Grup Hadroh Roudlotul Jannah mendapat kesempatan yang sangat-sangat kami impikan sedari dulu, untuk tampil dalam event bersama Habib Syech bin Abdulqodir Assegaf, walau hanya dalam sesi pra-acara bersama Gus Shofa dan Gus Andre sebagai vokalis Ahbabul Musthofa Kudus, dan Alhamdulillah kami bisa menampilkan performa semampu yang kami bisa dengan hasil yang cukup memuaskan. Inilah kesempatan yang sangat kami banggakan dan sangat kami syukuri, meski masih banyak kekurangan disana-sini namun kami bertekad akan terus mengembangkan bakat serta seni hadroh agar lebih baik dan lebih bermanfaat bagi syi’ar Jam’iyyah kami tercinta , Jam’iyyah Maulid Simtudduror & Mujahadah “Roudlotul Jannah” Kabupaten Banyumas.



Tak terasa kita sekarang sudah hampir tiba pada penghujung tahun 1433 H, kurang lebih sekitar 3 bulan lagi kita akan menjumpai bulan mulia yaitu bulan Rabi’ul Awal atau bulan Kelahiran Nabi kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang mana pada bulan tersebut ( Insya Alloh ) akan ada event atau acara yang akan kami selenggarakan, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Dan Alhamdulillah tadi malam telah terbentuk kepanitiaan untuk mempersiapkan acara dalam rangka memperingati Maulid Nabi Agung Muhammad SAW. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini kami sengaja mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari, tak lain agar hasil yang kami capai nanti bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada pertemuan pertama ini kami memfokuskan pada pembentukan panitia terlebih dahulu, dan insya Alloh pada kesempatan berikutnya kami akan memusyawarahkan waktu, tempat serta pembicara pada acara Peringatan Maulid Nabi nanti.
Do’a serta dukungan dari para pembaca semua tentunya sangat kami harapkan, agar tujuan serta syi’ar kami ini bisa terlaksana dengan baik dan sukses demi terwujudnya masyarakat Cilongok pada khususnya dan masyarakat Banyumas pada umumnya untuk lebih mencintai dan membuktikan kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW.
Amiin Yaa robbal ‘alamin….

Shollu ‘Alaa Nabi Muhammad…..!!!

to be continued…..

Minggu, 08 April 2012

5 Fakta Mengagumkan Seputar Adzan

Pembahasan tentang Lima fakta mengagumkan seputar adzan berikut ini mungkin bisa menambah wawasan anda terutama bagi anda yang beragama Islam.

Adzan adalah media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari.

Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan. Indonesia misalnya, sebagai sebuah negara terdiri dari ribuan pulau dan dengan penduduk muslim terbesar di dunia.


 


 1 . Kalimat Penyeru Yang Mengandung “Kekuatan Supranatural”
Ketika azan berkumandang, kaum yang bukan sekedar muslim, tetapi juga beriman, bergegas meninggalkan seluruh aktivitas duniawi dan bersegera menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak mereka mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran Seorang hamba (abdi) mereka bersimpuh, luruh dalam kesyahduan ibadah shalat berjamaah.

2. Asal Mula Yang Menakjubkan:
Pada jaman dulu, Rasulullah Saw. kebingungan untuk menyampaikan saat waktu shalat tiba kepada seluruh umatnya. Maka dicarilah berbagai cara. Ada yang mengusulkan untuk mengibarkan bendera pas waktu shalat itu tiba, ada yang usul untuk menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan bahkan membunyikan lonceng. Tetapi semuanya dianggap kurang pas dan kurang cocok.

Adalah Abdullah bin Zaid yang bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan yang sudah kita ketahui sekarang. Mimpi itu disampaikan Abdullah bin Zaid kepada Rasulullah Saw. Umar bin Khathab yang sedang berada di rumah mendengar suara itu. Ia langsung keluar sambil menarik jubahnya dan berkata: ”Demi Tuhan Yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi). Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”

yang kemudian Rasulullah menyetujuinya untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu untuk menyerukan panggilan shalat.

3. Adzan Senantiasa Ada Saat Peristiwa2 Penting:
Adzan Digunakan islam untuk memanggil Umat untuk Melaksanakan shalat. Selain itu adzan juga dikumandangkan disaat-saat Penting. Ketika lahirnya Seorang Bayi, ketika Peristiwa besar. Peristiwa besar yang dimaksud adalah:

- Fathu Makah : Pembebasan Mekkah merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah. Lalu Bilal Mengumandangkan Adzan Diatas Ka’bah.

- Perebutan kekuasaan Konstatinopel : Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur. lalu beberapa perajurit ottoman masuk kedalam Ramapsan terbesar Mereka Sofia..lalu mengumandangkan adzan disana sebagai tanda kemenagan meraka.

4. Adzan Sudah Miliyaran kali Dikumandangkan:
Sejak pertama dikumandangkan sampai saat ini mungkin sudah sekitar 1500 tahunan lebih adzan dikumandangkan. Anggaplah setahun 356 hari . berarti 1500 tahun X 356 hari= 534000 dan kalikan kembali dengan jumlah umat islam yang terus bertambah tiap tahunnya. Kita anggap umat islam saat ini sekitar 2 miliyar orang dengan persentase 2 milyar umat dengan 2 juta muadzin saja. Hasilnya = 534.000 x 2.000.000 = 1.068.000.000.000 dikalikan 5 = 5.340.000.000.000

5. Adzan Ternyata Tidak Pernah Berhenti Berkumandang
Proses itu terus berlangsung dan bergerak ke arah barat kepulauan Indonesia. Perbedaan waktu antara timur dan barat pulau-pulau di Indonesia adalah satu jam. Oleh karena itu, satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula sumatra. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.

Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, (Dawn) adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.

Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.

Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan Adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.

Sebelum Adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka waktu adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Fajar, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan untuk Isya. 



Senin, 26 Maret 2012

Laskar Pecinta Sholawat 2

Pelaksanaan Banyumas Bersholawat masih 4 hari lagi, usaha demi usaha telah dilakukan, demi suksesnya event Ulang Tahun Banyumas yang dlam hal ini merupakan sebuah Event Sejarah ulang tahun Kabupaten Banyumas  dimeriahkan dengan lantunan Maulid Simtudduror dan Sholawat...
dan inilah potret para pejuang dan prajurit Banyumas Bersholawat...

 Memasang Banner di pertigaan Karang Bawang....










Perjalanan dilanjutkan ke Daerah Wangon dan Jatilawang....
Waktu sudah memasuki saat Sholat Ashar...
Istirahat dan melaksanakan Sholat dahulu di Pombensin Jatilawang....

Sang Mandor berpose...
xixixixixixixi.....

Rencana selanjutnya, mencari tempat strategis sekaligus membeli makanan,,,
Dapatlah sebuah tempat yang lumayan strategis...
Pertigaan Jalan Jatilawang...




Kerja keras, Kerjasama, meski kehujanan, tetap semangat.....
masih ada beberapa titik yang harus dipasang, waktu sudah mulai gelap,,,
Canda tawa selalu muncul dimanapun berada, meski kadang ada sedikit ketegangan, namun tidak menyisakan prahara... (bahasane lho.. :-) )
Pertigaan Rawalo...




Lanjut bro...
Waktu maghrib tiba, masih setengah dari target yang harus dipasang...
Sholat dulu di Masjid dekat perempatan Kebasen...
Untuk kemudian memasang banner di perempatan Kebasen depan Polsek...
Action.....!!!

Agak gelap mas bro...  hehehee...

Sholat sudah, tinggal ngopi-ngopi dulu, sambil merencanakn strategi, ditemani seplastik salak dari pak Kapolsek dan seplastik mendoan, pisang goreng......
Kawasan yang akan dilalui selanjutnya merupakan jalan pedesaan yang masih banyak rimbun pohon tumbuh dipinggur jalan, serta kabel-kabel listrik malang melintang, sedikit menjadi kendala perjalanan kami, harus extra hati-hati dan waspada mengingat suasana yang sudah gelap.
Hampir saja ada sebuah tragedi jatuhnya ranting pohon yang cukup besar, karena tertabrak rangka baner yang berukuran 3 meter keatas, hampir saja mengenai seorang pejalan yang menggunakan kursi roda, alhamdulillah.. hampir saja mengenainya, untung dengan sigap orang itu segera menghindar...
kalau tidak.... wallohua'lam....
Tak seberapa jauh dari situ, masalah terjadi lagi...
Jalan yang kami lalui, ternyata melalui sebuah palang air yang melewati atas jalan, baner yang kami muat dlam pososi berdiri tegak tak bisa melewati palang air tersebut, hampir menjadi hambatan lalu lintas saat kami mencoba melewatinya. Dirubahlah posisi muatan baner agar tertata miring ke kanan untuk sementara, hanya untuk melewati palang air tersebut.
Alhamdulillah... ahirnya kami bisa melewati palang air tersebut, kembali posisi baner ditata tegak lurus untuk memudahkan keseimbangan mobil...
Perjalanan dilanjutkan...
Di depan Masjid pertigaan Patikraja...




Sedikit masalah perijinan dalam pemasangan baner tersebut, tapi dengan sigap diatasi oleh sang mandor... Wiro Dableng....
Masalah teratasi dalam sepeminuman teh...

Perjalanan dialnjutkan ke perempatan Tanjung, meski hujan melanda, tapi semangat tetap membara...
Namun sayang, karena kondisi hujan, foto tak dapat kami tampilkan,,,
Lanjut saja ke pintu masuk Kota Purwokerto, atau di dekat Perempatan RSUD Margono Soekarjo...

Sedikit gelap, namun tetap jelas khan???
Hujan tak jadi halangan...
Perjalanan dilanjutkan ke Pertigaan Sri Ratu Purwokerto...





Lanjut menuju perempatan DKT, perjalanan sedikit dipercepat, mengingat masih ada beberapa titik yang belum terpasang, dan waktu yang sudah mulai malam, menunjukkan pukul 21.20 WIB...
hmm.. sedikit kalah ukuran dengan banner yang lain,, tapi manfaatnya melebihi yang lain... heheehee...
Perjalanan dilanjutkan menuju Pasar Cermai...
Disana sudah ada satu Panglima yang menunggu,,,, Bapak Rohmat Wahyudi ...

Masih ada empat titik yang belum kami pasang, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, melanjutkan perjalanan ke Kedung Banteng, Karang Kates dan Gunung Lurah dan yang terakhir di Pertigaan Cilongok...
Suasana pemasangan baner di empat titik tersebut tidak bisa kami postingkan, dikarenakan raga yang sudah cukup lelah dan tak sempat lagi untuk mengambil gambarnya...
Begitulah kiranya perjalanan dan perjuangan kami dalam rangka mensukseskan acara Banyumas Bersholawat, sedikit usaha kami ini semoga menjadikan hati kami lebih cinta pada para Dzuriyyah Rasul dan Ulama...
Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya publikasi ini, semoga kita semua mendapatkan manfaat dan barokah dari para Dzuriyyah Rasul dan Ulama tercinta kita...

mohon maaf bila masih terdapat kekurangan dalam penataan bahasa serta tutur kata, semua semata-mata karena kesalahan dari penulis, kritik dan saran masih kami tunggu untuk kemajuan dan perjalanan blog ini dimasa yang akan datang...
Terima kasih....

Rabu, 21 Maret 2012

Laskar Pecinta Sholawat

Dalam upaya memperiahkan dan mensukseskan acara Banyumas Bersholawat, banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang yang peduli dan tau akan makna serta manfaat yang didapat, khususnya dalam upaya mensyiarkan cinta, cinta sejati, kepada Insan Utama Pemberi Syafaat, Nabi Muhammad SAW...
Selain upaya mendapatkan rasa cinta yang lebih, juga mempererat tali persaudaraan dan kekeluargaan..
Demikian yang bisa kita saksikan dalam setiap event acara sholawatan, atau maulidan dimanapun berada...
Tak terkecuali di Banyumas ini...Dapat kita lihat perjuangan, upaya serta kesemangatan oleh para pecinta sholawat...

Memasang Banner di Perempatan Lampu Merah Ajibarang...


Perjalan dilanjutkan ke perbatasan kabupaten Banyumas dan Brebes...
tepatnya di desa Kranggan..

































Meski agak siang kami berangkat, tapi semangat tetap sama seperti pagi hari...

to be continued..

Jumat, 09 Maret 2012

Banyumas Bersholawat

Dalam Usianya yang ke 430 tahun ini, Kabupaten Banyumas akan mengadakan suatu event besar dalam memperingati haru ulang tahunnya. Even ini sudah sangat ditunggu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas khusunya, dan masyarakat sekitar kabupaten Banyumas pada umunya. Bagaimana tidak, dalam beberapa bulan terakhir, telah banyak event - event serupa yang diadakan oleh beberapa Jam'iyyah Maulid / Majelis - Majelis Maulid yang berada di Kabupaten Banyumas ini, yang mana Jam'iyyah Maulid dan Mujahadah Roudlotul Jannah Kecamatan Cilongok ini juga sudah beberapa kali terlibat dalam kepengurusan dan kepanitiaan event - event besar tersebut.
Purwokerto bersholawat yang beberapa bulan lalu diadakan di Lapangan Karang Klesem Purwokerto, serta Purwokerto Bersholawat satu tahun yang lalu yang diadakan di Komplek Maqom Syeh Mahdum Wali Karang Lewas, semua itu adalah event besar yang dihadiri tidak hanya masyarakat Banyumas saja tetapi dihadiri oleh masyarakat sekitar Kabupaten Banyumas seperti Purbalingga, Wonosobo, Gombong, bahkan oleh masyarakat Kudus dan Purwodadi.
Dalam event kali ini, Banyumas Bersholawat akan diadakan di Alun - ALun Purwokerto pada tanggal 31 Maret 2012 yang akan dihadiri dan dipimpin oleh Beliau Al- Habib Syech bin Abdulqodir Assegaf bersama rombongan Ahbabul Mustofa_nya.
Kita tunggu saja kehadiran beliau yang ke 3 kalinya ini di Banyumas khususnya, semoga beliau di berikan kesehatan oleh Allah SWT dan dapat hadir ditengah-tengah masyarakat Banyumas nanti.. Amiin...

Selasa, 31 Januari 2012

Jangan jadi Robot

Mungkin kita sering melihat film fiksi ilmiah dimana terdapat makhluk yang menyerupai manusia tapi bukan manusia, yang lebih dikenal dengan robot manusia. Secara sepintas memang robot itu seperti manusia. Mereka memiliki mata, telinga, mulut, dan berbagai indera lain sama halnya seperti manusia. Dimana walupun secara fisik berbeda, alat indera itu secara fungsionalitas memiliki kesamaan dengan yang dimiliki manusia.

Robot itu merupakan salah satu kreasi manusia. Tujuannya adalah bagaimana agar hidup ini dapat lebih dipermudah dengan mendelegasikan pekerjaan yang rutin maupun pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan manusia. Sebagai hasil kreasi manusia, robot akan selalu mengikuti perintah yang membuatnya. Robot bisa diberdayagunakan di pabrik mobil untuk merakit komponen. Robot itu juga bisa digunakan untuk mengoperasikan tugas-tugas tertentu yang beresiko tinggi, misalnya mengendalikan reaktor nuklir. Sampai mungkin suatu saat kita bisa melihat robot bisa dijadikan sebagai angkatan bersenjata sebagaimana kita lihat di film-film fiksi ilmiah.

Saat ini bahkan sudah dibuat robot yang mempunyai kemampuan untuk menambah pengetahuannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). Dengan AI, robot itu seakan-akan mempunyai kemampuan berpikir sendiri. Bahkan kini sudah ada emosi buatan disebut artificial emotion, dimana robot akan mempunyai kemampuan untuk beremosi, sebagai respon atas suatu kejadian. Sehingga pada suatu saat, pengetahuan robot itu bisa saja melebihi manusia yang membuatnya dan merespon berdasarkan emosi. Sampai pada tahap tertentu nantinya bisa saja robot akan mengatakan TIDAK terhadap manusia pembuatnya.

Alhamdulillah, kita adalah manusia. Kita bukan robot yang selalu menjalankan tugas-tugas yang rutin. Tidak seperti robot, kita bisa saja istirahat dari segala aktivitas kita. Tidak seperti robot, kecerdasan yang ada pada diri kita bukanlah buatan tapi merupakan kecerdasan yang sebenar-benarnya. Tidak seperti robot, emosi yang ada pada diri kita juga merupakan emosi yang memang tidak bisa ditebak keadaannya, karena memang itulah sifat dari emosi. Itu semua telah diberikan oleh Allah, sang Maha pencipta.

Walaupun demikian, sama halnya seperti robot. Dalam kehidupan sehari-hari kita terjebak dalam keadaan yang memaksa kita berperilaku seperti robot. Selain itu terkadang kecerdasan yang ada pada diri kita ini digunakan untuk berpikir dan menghimpun pengetahuan yang tidak membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi justru semakin menjauhkan kita dari Allah. Kita justru akan mengatakan TIDAK kepada Allah, pencipta kita sendiri. Sampai-sampai kita merasa orang yang paling pintar di dunia ini dan berlaku sombong. Padahal kecerdasan yang kita miliki hanyalah bagian kecil saja dari seluruh ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah: \"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Allah, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Allah, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)\" (Quran Surat Al-Kahfi:109).

Beruntung bagi kita manusia yang diberikan sisi lain yang tidak mungkin ada pada robot, yaitu sisi spiritual. Sisi spiritual itulah yang memungkinkan kita untuk selalu mengingat-Nya. Bersyukurlah kita yang tetap menjaga sisi spiritual kita, karena inilah yang membedakan kita dengan robot-robot. Karenanya jika kita tidak ingin dikatakan sebagai robot, ingatlah selalu kepada Allah dengan dzikir dan bersyukur kepada-Nya agar kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

\"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.\" (Quran Surat At-Tin 1-4).

Minggu, 22 Januari 2012

Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf

 Penjaga Akidah Akhlussunnah Wal Jama’ah

Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdakwah. Berbagai tempat telah ia rambah, untuk membentengi umat dari pendangkalan akidah.

Ditopang oleh postur tubuhnya yang tinggi tegap saat di mimbar, dai yang satu ini bak singa podium. Ceramahnya berapi-api, membakar semangat jama’ah. Terkadang nada suaranya baik air yang mengalir deras, penuh ketegasan. Gaya berdakwah dai yang satu ini memang sangat khas, suara bariton yang berat dan dalam. Orasinya terkesan galak, penuh nada kritik namun bertanggung jawab. Sesekali dalam ceramahnya, ia menyelipkan canda-canda yang segar. Sehingga, dalam tiap pengajian yang diisi olehnya, ribuan jamaah betah mendengarkan sampai acara pengajian berakhir.
Jamaahnya banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dialah Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf, salah satu keluarga Al-Kaf yang paling keras dalam berdakwah dari tujuh bersaudara anak lelaki Habib Abdullah Al-Kaf. Sebagai pendakwah, pria kelahiraan Tegal, 15 Agustus 1960, ini dikenal sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat.
Mengenakan baju koko putih dan bersarung, demikian tampilan sederhana habib yang sebagian besar waktunya habis untuk berdakwah ini. Ditunjang oleh sosoknya yang tinggi besar, kalau sedang berbicara di atas panggung, nada bariton yang berat dan suara menggelegar, itulah ciri khasnya. Gaya pidatonya berapi-api penuh semangat, sehingga dai ini terkesan angker. Namun, di balik kesehariannya, ia adalah seorang yang berhati lembut, bertutur kata pelan dan bersahaja.
Habib Thohir mendapatkan pendidikan agama dari ayah, Habib Abdullah Al-Kaf, yang dikenal sebagai ulama senior di Jawa Tengah. Kemudian SD dan SMP Al-Khairiyah di Tegal. Baru, pada tahun 1980, menjadi santri Sayid Al-Maliki di Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain Makkah. Dia menjadi santri selama enam tahun bersama adiknya, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf. Habib Hamid kini dikenal sebagai muballigh dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain, Jln. Ganceng, Pondok Ranggon, Cilangkap, Jakarta Timur.
Pulang ke Indonesia tahun 1986, Habib Thohir langsung terjun ke bidang dakwah, dan pernah juga menjadi ustaz di beberapa pesantren. Kini, meski berkeluarga di Pekalongan, dia lebih banyak membina umat di Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin. Di masjid yang terletak di Jalan Duku Tegal itulah, dia mengadakan majelis taklim yang diberi nama “Majelis Taklim Zainal Abidin”.
Dia berharap, pesantren Zainal Abidin, yang sejak lama digagasnya, akan bisa dibangun di Tegal. Sebab sudah banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepadanya. Namun, cita-citanya itu tampaknya masih akan lama terwujud, sebab sekarang jadwal berdakwahnya masih padat.

Pendangkalan Akidah
Ketika disingung dengan isu aktual berdakwah, Habib Thohir dengan penuh semangat menyatakan, tantangan terberat umat Islam saat ini adalah adanya pendakalan akidah lewat aliran sesat. “Berdakwah, menurut saya, sebenarnya lebih dari gerakan moral. Sebab saat ini umat Islam Indonesia khususnya masih sering terjebak gerakan aliran sesat. Jadi saya sekarang berkonsentrasi untuk berdakwah, lebih banyak menyoroti tentang akidah, terutama fenomena banyaknya aliran sesat itu,” kata Habib Thohir membuka perbincangan.
“Jadi, kalau Habib Rizieq memerangi kemaksiatan lahiriah, seperti perjudian, mabuk-mabukan, dan pelacuran, saya lebih banyak memerangi kemungkaran dalam akidah yang diakibatkan oleh aliran sesat, seperti Ahmadiyah dan lainnya,” ujar ayah dua anak ini.
Hampir dalam berbagai dakwah, entah dalam kesempatan majelis taklim, haul, ataupun seminar, dia selalu memperingatkan beberapa kesesatan yang dilancarkan kepada kaum muslimin di Indonesia. Sebab Islam di Indonesia, menurutnya, adalah Islam warisan Walisanga, yaitu Ahlusunnah wal Jamaah, bukan Syiah maupun Ahmadiyah, misalnya. Nama Habib Thohir lebih banyak dikenal oleh kaum muslimin yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Karena dia lebih senang berdakwah di daerah-daerah, bahkan masuk di pedesaan.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga akidah, jangan sampai ketidaktahuan mereka pada akidah Ahlussunah wal Jamaah, menjadi sasaran empuk propagandis aliran sesat yang merusak pokok-pokok kepercayaan umat Islam,” kata Habib Thohir.
Habib Thohir juga mengharapkan, para ulama dan cendekiawan mempunyai sikap dan kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama Ahlussunah wal Jamaah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal furu’iyyah (masalah cabang-cabang agama), seperti tahlil, Maulid, haul, dan lainnya.
“Jangan dianggap bahwa orang-orang yang menjalankan ritus ini tidak mempunyai argumentasi. Dan sewaktu berdebat dengan orang-orang semacam ini berarti berhadapan dengan saudara sendiri. Perlu diketahui juga, mayoritas umat Islam Indonesia adalah paham Ahlussunah wal Jamaah, yang senang tahlil, Maulid, haul, dan lain-lain. Dakwah semacam ini, dipastikan akan mendapat tantangan. Contoh di kota Mataram beberapa waktu lalu, sebuah pondok pesantren dibakar, karena melarang talqin. Ini bisa timbul di tempat lain,” katanya dengan nada penuh prihatin.
Habib Thohir menambahkan, perdebatan semacam persoalan furu’iyyah sebaiknya segera diakhiri. Menurutnya perdebatan-perdebatan semacam itu sangat kontraproduktif bagi umat Islam. “Di saat kita membutuhkan energi, kekuatan, dan ilmu kita untuk sesuatu yang sangat berbahaya menimpa umat – terutama aliran sesat – kita kok masih berdebat soal khilafiyah?” kata bapak dua orang putra ini.
Karena panggilan rasa persatuan itulah, Habib Thohir senantiasa menggandeng semua pihak untuk bisa duduk bersama dan bahu-membahu membangun dan berdakwah untuk umat.
“Jadi paham aliran sesat dan paham-paham di luar Islam, seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme perlu diluruskan. Ini dapat merusak akidah umat Islam, karena paham-paham ini mengarah para pemurtadan. Alasannya sudah cukup kuat, yakni memutuskan akal, merekayasa fiqih lintas agama karena fiqih Islam dianggap tidak demokratis, dan berupaya meragukan kaidah keislaman,” kata Habib Thohir lagi.

Amar Ma’ruf
Tekadnya untuk memerangi aliran sesat semakin mantap ketika dia menjadi pemrasaran dalam seminar Sekitar Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal pada 1997. Sikapnya terus berlanjut dengan berbagai seminar di dalam maupun luar negeri.
“Kita diperintahkan oleh Nabi untuk bangkit, tidak diam. Mana yang bangkit? Siapa yang berjuang dan menantang arus ini (pendangkalan akidah - Pen.)?”
Habib Thohir, selain berdakwah dengan pidato-pidatonya yang kerap menolak aliran sesat, juga telah menuliskan karyanya dengan judul Mengapa Kita Menolak Syiah?, serta beberapa buku lainnya. Namun, dia merasakan lebih mantap untuk menjelaskan kepada umat lewat dakwah bil lisan, sebab umat belum terbiasa untuk membaca buku.
Dia sangat menyesalkan lambannya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan. Padahal, menurutnya, gerakan aliran sesat itu sekarang masih berjalan, walaupun dalam skala yang kecil dan sembunyi-sembunyi. “Di saat orang lain diam, saya katakan, saya menyediakan diri untuk menghadapinya sekalipun sendirian!”
Ketika disinggung tentang maraknya kegiatan terorisme yang banyak menimpa umat Islam, Habib Thohir dengan keras menentangnya. “Islam tidak mengenal teroris, keberadaan orang-orang yang melaksanakan kegiatan terorisme sangat merugikan citra Islam. Sehingga dilihat, seakan-akan Islam itu kejam, keras, tidak kenal kasih sayang.”
Habib Thohir sendiri merasakan betapa masyarakat kita, dan skala yang lebih luas internasional, begitu ketat dalam menanggapi fenomena terorisme. Ia mengisahkan pernah “diinterogasi” petugas intelijen dan imigrasi di perbatasan antara Malaysia dan Singapura.
Kisahnya bermula ketika dia mendapat undangan untuk mengisi peringatan haul di Masjid Ba’alawi Singapura. “Saya sampai dua jam diinterogasi, dikira teroris. Ditanya ini-itu, sampai menanyakan istri dan anak, pendidikan, sekitar dua jam. Sangat melelahkan. Itu salah satu imbas efek terorisme,” kata Habib Thohir.
Bahkan tidak hanya terjadi ketika di Singapura. Pulang ke tanah air pun, dia masih merasakan efek terorisme. Ketika masuk bandara, mall, hotel, ia selalu diperiksa dengan ketat. “Ini semua karena ‘efek samping’ suatu perbuatan saudara kita yang salah sasaran. Dan ini justru menjadi kesempatan bagi orang-orang di luar Islam untuk menjelek-jelekkan citra Islam,” komentarnya mengenai terorisme.
Karenanya, untuk menyudahi persoalan terorisme, Habib Thohir mengimbau umat Islam untuk mendefinisikan kembali makna dan hakikat jihad. Yakni, jihad tidak dibenarkan menggunakan bom. Menurutnya, teror bom hanya akan mengganggu kehidupan umat manusia. Jihad merupakan sarana dakwah, bukan tujuan, sehingga harus dilaksanakan secara baik, bermanfaat luas, dan jauh dari anarkisme dan kekerasan.
Jihad itu mempunyai aturan main yang sangat luas. Jadi, berjihadlah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. “Kapan kita harus perang, kepada siapa kita berperang, dan siapa saja yang harus kita perangi? Perempuan, anak-anak, orang yang sedang beribadah sekalipun nonmuslim, tidak boleh dibunuh. Binatang tidak boleh dibunuh, bahkan pohon dan barang-barang pun tidak boleh dirusak!”