Selasa, 31 Januari 2012

Jangan jadi Robot

Mungkin kita sering melihat film fiksi ilmiah dimana terdapat makhluk yang menyerupai manusia tapi bukan manusia, yang lebih dikenal dengan robot manusia. Secara sepintas memang robot itu seperti manusia. Mereka memiliki mata, telinga, mulut, dan berbagai indera lain sama halnya seperti manusia. Dimana walupun secara fisik berbeda, alat indera itu secara fungsionalitas memiliki kesamaan dengan yang dimiliki manusia.

Robot itu merupakan salah satu kreasi manusia. Tujuannya adalah bagaimana agar hidup ini dapat lebih dipermudah dengan mendelegasikan pekerjaan yang rutin maupun pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan manusia. Sebagai hasil kreasi manusia, robot akan selalu mengikuti perintah yang membuatnya. Robot bisa diberdayagunakan di pabrik mobil untuk merakit komponen. Robot itu juga bisa digunakan untuk mengoperasikan tugas-tugas tertentu yang beresiko tinggi, misalnya mengendalikan reaktor nuklir. Sampai mungkin suatu saat kita bisa melihat robot bisa dijadikan sebagai angkatan bersenjata sebagaimana kita lihat di film-film fiksi ilmiah.

Saat ini bahkan sudah dibuat robot yang mempunyai kemampuan untuk menambah pengetahuannya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Artificial Intelligence (AI). Dengan AI, robot itu seakan-akan mempunyai kemampuan berpikir sendiri. Bahkan kini sudah ada emosi buatan disebut artificial emotion, dimana robot akan mempunyai kemampuan untuk beremosi, sebagai respon atas suatu kejadian. Sehingga pada suatu saat, pengetahuan robot itu bisa saja melebihi manusia yang membuatnya dan merespon berdasarkan emosi. Sampai pada tahap tertentu nantinya bisa saja robot akan mengatakan TIDAK terhadap manusia pembuatnya.

Alhamdulillah, kita adalah manusia. Kita bukan robot yang selalu menjalankan tugas-tugas yang rutin. Tidak seperti robot, kita bisa saja istirahat dari segala aktivitas kita. Tidak seperti robot, kecerdasan yang ada pada diri kita bukanlah buatan tapi merupakan kecerdasan yang sebenar-benarnya. Tidak seperti robot, emosi yang ada pada diri kita juga merupakan emosi yang memang tidak bisa ditebak keadaannya, karena memang itulah sifat dari emosi. Itu semua telah diberikan oleh Allah, sang Maha pencipta.

Walaupun demikian, sama halnya seperti robot. Dalam kehidupan sehari-hari kita terjebak dalam keadaan yang memaksa kita berperilaku seperti robot. Selain itu terkadang kecerdasan yang ada pada diri kita ini digunakan untuk berpikir dan menghimpun pengetahuan yang tidak membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, tetapi justru semakin menjauhkan kita dari Allah. Kita justru akan mengatakan TIDAK kepada Allah, pencipta kita sendiri. Sampai-sampai kita merasa orang yang paling pintar di dunia ini dan berlaku sombong. Padahal kecerdasan yang kita miliki hanyalah bagian kecil saja dari seluruh ilmu Allah. Sebagaimana firman Allah: \"Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Allah, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Allah, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)\" (Quran Surat Al-Kahfi:109).

Beruntung bagi kita manusia yang diberikan sisi lain yang tidak mungkin ada pada robot, yaitu sisi spiritual. Sisi spiritual itulah yang memungkinkan kita untuk selalu mengingat-Nya. Bersyukurlah kita yang tetap menjaga sisi spiritual kita, karena inilah yang membedakan kita dengan robot-robot. Karenanya jika kita tidak ingin dikatakan sebagai robot, ingatlah selalu kepada Allah dengan dzikir dan bersyukur kepada-Nya agar kita bisa menjadi manusia yang sebenarnya.

\"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.\" (Quran Surat At-Tin 1-4).

Minggu, 22 Januari 2012

Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf

 Penjaga Akidah Akhlussunnah Wal Jama’ah

Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdakwah. Berbagai tempat telah ia rambah, untuk membentengi umat dari pendangkalan akidah.

Ditopang oleh postur tubuhnya yang tinggi tegap saat di mimbar, dai yang satu ini bak singa podium. Ceramahnya berapi-api, membakar semangat jama’ah. Terkadang nada suaranya baik air yang mengalir deras, penuh ketegasan. Gaya berdakwah dai yang satu ini memang sangat khas, suara bariton yang berat dan dalam. Orasinya terkesan galak, penuh nada kritik namun bertanggung jawab. Sesekali dalam ceramahnya, ia menyelipkan canda-canda yang segar. Sehingga, dalam tiap pengajian yang diisi olehnya, ribuan jamaah betah mendengarkan sampai acara pengajian berakhir.
Jamaahnya banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Dialah Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaf, salah satu keluarga Al-Kaf yang paling keras dalam berdakwah dari tujuh bersaudara anak lelaki Habib Abdullah Al-Kaf. Sebagai pendakwah, pria kelahiraan Tegal, 15 Agustus 1960, ini dikenal sangat konsisten dalam membentengi umat dari pendangkalan akidah, terutama oleh berkembangnya aliran sesat.
Mengenakan baju koko putih dan bersarung, demikian tampilan sederhana habib yang sebagian besar waktunya habis untuk berdakwah ini. Ditunjang oleh sosoknya yang tinggi besar, kalau sedang berbicara di atas panggung, nada bariton yang berat dan suara menggelegar, itulah ciri khasnya. Gaya pidatonya berapi-api penuh semangat, sehingga dai ini terkesan angker. Namun, di balik kesehariannya, ia adalah seorang yang berhati lembut, bertutur kata pelan dan bersahaja.
Habib Thohir mendapatkan pendidikan agama dari ayah, Habib Abdullah Al-Kaf, yang dikenal sebagai ulama senior di Jawa Tengah. Kemudian SD dan SMP Al-Khairiyah di Tegal. Baru, pada tahun 1980, menjadi santri Sayid Al-Maliki di Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain Makkah. Dia menjadi santri selama enam tahun bersama adiknya, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf. Habib Hamid kini dikenal sebagai muballigh dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Haramayn asy-Asyarifain, Jln. Ganceng, Pondok Ranggon, Cilangkap, Jakarta Timur.
Pulang ke Indonesia tahun 1986, Habib Thohir langsung terjun ke bidang dakwah, dan pernah juga menjadi ustaz di beberapa pesantren. Kini, meski berkeluarga di Pekalongan, dia lebih banyak membina umat di Tegal, khususnya di Masjid Zainal Abidin. Di masjid yang terletak di Jalan Duku Tegal itulah, dia mengadakan majelis taklim yang diberi nama “Majelis Taklim Zainal Abidin”.
Dia berharap, pesantren Zainal Abidin, yang sejak lama digagasnya, akan bisa dibangun di Tegal. Sebab sudah banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya kepadanya. Namun, cita-citanya itu tampaknya masih akan lama terwujud, sebab sekarang jadwal berdakwahnya masih padat.

Pendangkalan Akidah
Ketika disingung dengan isu aktual berdakwah, Habib Thohir dengan penuh semangat menyatakan, tantangan terberat umat Islam saat ini adalah adanya pendakalan akidah lewat aliran sesat. “Berdakwah, menurut saya, sebenarnya lebih dari gerakan moral. Sebab saat ini umat Islam Indonesia khususnya masih sering terjebak gerakan aliran sesat. Jadi saya sekarang berkonsentrasi untuk berdakwah, lebih banyak menyoroti tentang akidah, terutama fenomena banyaknya aliran sesat itu,” kata Habib Thohir membuka perbincangan.
“Jadi, kalau Habib Rizieq memerangi kemaksiatan lahiriah, seperti perjudian, mabuk-mabukan, dan pelacuran, saya lebih banyak memerangi kemungkaran dalam akidah yang diakibatkan oleh aliran sesat, seperti Ahmadiyah dan lainnya,” ujar ayah dua anak ini.
Hampir dalam berbagai dakwah, entah dalam kesempatan majelis taklim, haul, ataupun seminar, dia selalu memperingatkan beberapa kesesatan yang dilancarkan kepada kaum muslimin di Indonesia. Sebab Islam di Indonesia, menurutnya, adalah Islam warisan Walisanga, yaitu Ahlusunnah wal Jamaah, bukan Syiah maupun Ahmadiyah, misalnya. Nama Habib Thohir lebih banyak dikenal oleh kaum muslimin yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Karena dia lebih senang berdakwah di daerah-daerah, bahkan masuk di pedesaan.
“Yang paling penting sekarang adalah menjaga akidah, jangan sampai ketidaktahuan mereka pada akidah Ahlussunah wal Jamaah, menjadi sasaran empuk propagandis aliran sesat yang merusak pokok-pokok kepercayaan umat Islam,” kata Habib Thohir.
Habib Thohir juga mengharapkan, para ulama dan cendekiawan mempunyai sikap dan kepedulian untuk membentengi umat Islam dari kerusakan akidah. Kepada sesama Ahlussunah wal Jamaah, diharapkan tidak perlu lagi berdebat soal furu’iyyah (masalah cabang-cabang agama), seperti tahlil, Maulid, haul, dan lainnya.
“Jangan dianggap bahwa orang-orang yang menjalankan ritus ini tidak mempunyai argumentasi. Dan sewaktu berdebat dengan orang-orang semacam ini berarti berhadapan dengan saudara sendiri. Perlu diketahui juga, mayoritas umat Islam Indonesia adalah paham Ahlussunah wal Jamaah, yang senang tahlil, Maulid, haul, dan lain-lain. Dakwah semacam ini, dipastikan akan mendapat tantangan. Contoh di kota Mataram beberapa waktu lalu, sebuah pondok pesantren dibakar, karena melarang talqin. Ini bisa timbul di tempat lain,” katanya dengan nada penuh prihatin.
Habib Thohir menambahkan, perdebatan semacam persoalan furu’iyyah sebaiknya segera diakhiri. Menurutnya perdebatan-perdebatan semacam itu sangat kontraproduktif bagi umat Islam. “Di saat kita membutuhkan energi, kekuatan, dan ilmu kita untuk sesuatu yang sangat berbahaya menimpa umat – terutama aliran sesat – kita kok masih berdebat soal khilafiyah?” kata bapak dua orang putra ini.
Karena panggilan rasa persatuan itulah, Habib Thohir senantiasa menggandeng semua pihak untuk bisa duduk bersama dan bahu-membahu membangun dan berdakwah untuk umat.
“Jadi paham aliran sesat dan paham-paham di luar Islam, seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme perlu diluruskan. Ini dapat merusak akidah umat Islam, karena paham-paham ini mengarah para pemurtadan. Alasannya sudah cukup kuat, yakni memutuskan akal, merekayasa fiqih lintas agama karena fiqih Islam dianggap tidak demokratis, dan berupaya meragukan kaidah keislaman,” kata Habib Thohir lagi.

Amar Ma’ruf
Tekadnya untuk memerangi aliran sesat semakin mantap ketika dia menjadi pemrasaran dalam seminar Sekitar Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal pada 1997. Sikapnya terus berlanjut dengan berbagai seminar di dalam maupun luar negeri.
“Kita diperintahkan oleh Nabi untuk bangkit, tidak diam. Mana yang bangkit? Siapa yang berjuang dan menantang arus ini (pendangkalan akidah - Pen.)?”
Habib Thohir, selain berdakwah dengan pidato-pidatonya yang kerap menolak aliran sesat, juga telah menuliskan karyanya dengan judul Mengapa Kita Menolak Syiah?, serta beberapa buku lainnya. Namun, dia merasakan lebih mantap untuk menjelaskan kepada umat lewat dakwah bil lisan, sebab umat belum terbiasa untuk membaca buku.
Dia sangat menyesalkan lambannya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga-lembaga keagamaan. Padahal, menurutnya, gerakan aliran sesat itu sekarang masih berjalan, walaupun dalam skala yang kecil dan sembunyi-sembunyi. “Di saat orang lain diam, saya katakan, saya menyediakan diri untuk menghadapinya sekalipun sendirian!”
Ketika disinggung tentang maraknya kegiatan terorisme yang banyak menimpa umat Islam, Habib Thohir dengan keras menentangnya. “Islam tidak mengenal teroris, keberadaan orang-orang yang melaksanakan kegiatan terorisme sangat merugikan citra Islam. Sehingga dilihat, seakan-akan Islam itu kejam, keras, tidak kenal kasih sayang.”
Habib Thohir sendiri merasakan betapa masyarakat kita, dan skala yang lebih luas internasional, begitu ketat dalam menanggapi fenomena terorisme. Ia mengisahkan pernah “diinterogasi” petugas intelijen dan imigrasi di perbatasan antara Malaysia dan Singapura.
Kisahnya bermula ketika dia mendapat undangan untuk mengisi peringatan haul di Masjid Ba’alawi Singapura. “Saya sampai dua jam diinterogasi, dikira teroris. Ditanya ini-itu, sampai menanyakan istri dan anak, pendidikan, sekitar dua jam. Sangat melelahkan. Itu salah satu imbas efek terorisme,” kata Habib Thohir.
Bahkan tidak hanya terjadi ketika di Singapura. Pulang ke tanah air pun, dia masih merasakan efek terorisme. Ketika masuk bandara, mall, hotel, ia selalu diperiksa dengan ketat. “Ini semua karena ‘efek samping’ suatu perbuatan saudara kita yang salah sasaran. Dan ini justru menjadi kesempatan bagi orang-orang di luar Islam untuk menjelek-jelekkan citra Islam,” komentarnya mengenai terorisme.
Karenanya, untuk menyudahi persoalan terorisme, Habib Thohir mengimbau umat Islam untuk mendefinisikan kembali makna dan hakikat jihad. Yakni, jihad tidak dibenarkan menggunakan bom. Menurutnya, teror bom hanya akan mengganggu kehidupan umat manusia. Jihad merupakan sarana dakwah, bukan tujuan, sehingga harus dilaksanakan secara baik, bermanfaat luas, dan jauh dari anarkisme dan kekerasan.
Jihad itu mempunyai aturan main yang sangat luas. Jadi, berjihadlah seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. “Kapan kita harus perang, kepada siapa kita berperang, dan siapa saja yang harus kita perangi? Perempuan, anak-anak, orang yang sedang beribadah sekalipun nonmuslim, tidak boleh dibunuh. Binatang tidak boleh dibunuh, bahkan pohon dan barang-barang pun tidak boleh dirusak!”

Sabtu, 21 Januari 2012

Memperingati Mauld Nabi Muhammad SAW 1433 H (Part 3)

Rumah kediaman Bpk. H. Solihun terletak di grumbul Petir Desa Cilongok.. Hujan yang mengguyur pada sore harinya, membuat suasana agak sedikit membuat malas untuk hadir, namun itu tak menyurutkan semangat para panitia untuk menghadiri rapat ke tiga malam itu, terbukti ketika penulis hadir, disana sudah ada sebagian panitia yang menunggu, disusul beberapa menit kemudian, Abah beserta rombongan dari Gunung lurah dan sokawera hadir...
Acara dibuka dengan pemberitahuan tentang akan datangnya hari rabu wekasan...
Disebutkan bahwa pada hari itu akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencan. dan Disunahkan pula dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali.Acara dianjutkan dengan pembacaan Manaqib, dan langsung dilanjutkan dengan musyawarah...
Musyawarah dipimpin langsung oleh ketua panitia Bpk. Ir. H. Affaroaitum, membahas masalah pelaporan masing-masing panitia sesuai tugasnya, mulai dari pembina sampai ujung tombak kepanitiaan.
Dari musyawarah itu sedikit yang bisa penulis simpulkan....
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akan dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2012 M bertepatan dengan tanggal 09 Rabi'ul Awal 1433 H di Lapangan Cilongok. Dengan pembicara InsyaAllah oleh Al-Habib Thohir bin Abdullah Al Kaff  dan Al Habib Abdullah Bagyr bin Ahmad Al Athas ( Shohibul Khaul Sepuro - Pekalongan ). Dan dari seksi usaha malam itu juga mengadakan penggalangan dana dari para panitia yang hadir, seperti pada musyawarah seelumnya, dan alhamdulillah terkumpul dana sekitar 35% dari total rencana anggaran. Seksi usaha juga sudah mengerahkan kemampuannya untuk menggalang dana dengan menyebarkan kalender 2012 ke berbagai pelosok wilayah kecamatan Cilongok. Ketidak hadiran beberpa panitia dan koordinator seksi membuat musyawarah malam itu sedikit terganggu namun para musyawirin percaya bahwa semua pasti sudah ahli dan berpengalaman dalam bidangnya.
Acara berakhir sekitar pukul 1 pagi, semua panitia sudah punya fisi dan misi masing-masing untuk melaksanakan tugasnya esok pagi dan sterusnya.
Dan acara musyawarah selanjutnya akan di adakan di kediaman Bpk. H. Suroso , dengan waktu dan hari yang sama. Insya Allah,,,,,

to be continued....

Jumat, 20 Januari 2012

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H (Part 2)

Waktu sudah menunjukkan pukul 20:30 WIB ketika rombongan dari Cilongok sampai di kediaman ketua panitia Maulid Bpk. H. Ir. Ahmad Affaroaitum di Gunung Lurah...
Disana sudah hadir beberapa panitia yang lain dari Sokawera dan Gunung Lurah sendiri..
Obrolan ringan tercipta sebelum acara dimulai, Abah bercerita tentang tamunya yang dulu pernah singgah di Pondok Al-Fattah, yang dengan kehadirannya sekarang membawa sebuah cerita tentang masalah rekening bank-nya yang membengkak menjadi 27 Milyar , sebuah cerita yang cukup membuat pusing kepala kalau diceritakan....
Acara dibuka oleh sekretaris 1 dengan bacaan ummul kitab, dan dilanjutkan dengan musyawah yang dipimpin langsung oleh ketua panitia...
Musyawarah kali ini merupakan lanjutan dari musyawarah satu minggu sebelumnya, dan menghasilkan susunan panitia lanjutan sebagai berikut :

Seksi – Seksi    :

1.      Acara
a.      Ust. Soim AJ.
b.      Amir Hamzah ST.

2.      Usaha
Koordinator               : Rohmat Wahyudi  

a.      Ali Ma’ruf                  g.  Hamdan Mustolih             
b.      Fauzi                         h.  Untung Hidayat                 
c.       Fathannudin               i.   Ustad Mukti                      
d.      Badrun                      j.   Asrofi Yatno                      
e.      Heri Purwanto           k.  Sugeng                              
f.        Aris Setyawan      

3.      Humas dan Publikasi
Koordiator                 : Purwoko       

a.      Subagyo                       f.   Fajri                                   
b.      Mastur ICB                  g.  Sirojul Munir                      
c.       Jeni                              h.  Aris Setyawan
d.      Ust. Burhanudin            i.   Sobirn Asbar                      
e.      Tofik                             j.   Yono                                   
f.        Muslih                          k.  Khadirin Dirjo                    
g.      Tofik Efendi                  l.   Fauzan                                

4.      Perlengkapan
Koordinator   I           : Aris Budi Irawan      
Koordinator   II          : Sekhan                     

a.      Yuswari                       e.  Slamet A. Hasanudin          
b.      Sunarso                      f.   Abu Sururi                        
c.       M. Khafi                     g.  Hamdan Mustolih              
d.      Takim                    


5.      Keamanan
Koordinator               : M. Dwi Kwanda      

a.      Muhdori Efendi      
b.      Edi Sungkoowo     
c.       Budi Suprapto       


6.      Dekorasi dan Dokumentasi
Koordinator               : Imam Syafi’I  

a.      Sumardi                 
b.      Pujianto                


7.      Penjemput Tamu
Koordinator               : H. Hananurrohman             

a.      Ky. Imam Fahrurozi              j.  Ibu Siti
b.      Gus sugeng fauzi                   k.  Ibu Tumirah
c.       Ust. Sakhirin                        l.   H. Darto
d.      Gus Ali Hasan                  
e.      Dikun                                
f.        Cipto Teguh Wibowo        
g.      Ky. Sukhemi                       
h.      Oot Suwarso                      
i.        Joko Waluyo                      


8.      Transportasi
Koordinator               : Abu Sururi    
a.      Subagyo                 
b.      Ali Romadlon        
c.       Kang Farhan         

9.      Konsumsi
Koordiator                 : Ibu Nyai Andri         

a.      Ibu H. Roso            
b.      Ibu Samroh            
c.       Ibu Siti Malihah     
d.      Ibu Sri Yatun          
e.      Ibu Ilfilaeli              
f.        Ibu Wati                
g.      Ibu Sutarmi           


Selain penyempurnaan susunan panitia, musyawarh kali ini juga membahas Rencana Anggaran Dana.
Musyawarah berjalan penuh suasana kekeluargaan, sesekali diselingi guyonan dan candaan dari para musyawirin, sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Acara ditutup dengan pembacaan Manaqib oleh Bpk. Ky. Slamet Su'aedi dan dilanjutkan dengan menikmati hidangan penutup.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB, semua musyawirin memohon diri dan acara Musyawaah selanjutya telah disepakati bersama yaitu pada malam rabu berikutnya di Rumah Wakil Ketua Panitia Bpk. H. Solihun Petir Cilongok...

to be continued......

Rabu, 11 Januari 2012

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H ( Part 1 )

Serius dengan pekerjaan yang penulis kerjakan di komputer membuat sedikit kaget ketika suara handphone melengking, pertanda ada panggilan masuk...

Tiga menit kemudian....

Suasana hangat tercipta ketika penulis memasuki ruang Aula Pon-Pes Al-Fattah Kauman Cilongok, sudah ada disana para musyawirin sedang membicarakan sesuatu dan sesekali terdengar canda tawa para tetua Roudlotul Jannah.
Seperti biasanya, penulis hanya mendengarkan dengan seksama walaupun banyak sekali yang belum masuk dalam fikiran, hanya bertanya dan menganalisa percakapan yang di dengar sendiri.
Akan ada event yang digelar bulan depan.. hanya itu analisanya.
Bertemu dengan sang pemanggil tadi, dan langsung terlibat pembicaraan tentang skema dan teknis pembuatan kalender 2012 yang sudah penulis rancang sebelumnya, hingga pada akhirnya terjadi kesepakatan, penulis hanya membuat setting kalender saja.

Kembali pada musyawirin yang sibuk mencari dan menunjuk panitia Maulid Nabi, dan terbentuklah susunan panitia....


Pelindung       
  1. Fatikul Iksan, M.Hum ( Camat Cilongok )
  2. Kyai Slamet Su’aedi  ( Pembina Jam’iyyah )
  3. Tasun (Kepala Desa CIlongok)
Penasehat
  1. Kyai Slamet Su’aedi ( Pembina Jam’iyyah )
  2. Kyai Mastur Mughofir
  3. Kyai Solim

Penanggung Jawab
H. Suroso ( Ketua Jam’yyah )

Ketua
  1. H. Ir. Ahmad Affaroaitum
  2. H. Solihun

Sekretaris
  1. Akhmad Kholidin
  2. Pujianto

Bendahara
  1. Sofyan Setiyanto
  2. Kharis Khamdani
  3. H. Muhdori 

Waktu yang sudah cukup malam, karena sebelumnya sudah ada acara rutin Pembacaan Manaqib setiap malam 11 hijriyah, maka acara dicukupkan dan akan dilanjutkan pada hari Selasa , 11 Januari 2012 di Rumah Ketua Panitia Maulid yaitu Bapak H. Ir. Ahmad Affaroaitum , Gunung Lurah.

to be continued..........