Sabtu, 20 Oktober 2012

Masalah adalah Hadiah

Masalah
Jepang adalah negara dengan konsumsi ikan paling besar. Pada suatu saat nelayan2 disana tidak mendapatkan ikan di lautan dangkal karena sudah mulai menipis. Terpaksa mereka melaut lebih jauh ke lautan dalam agar mendapat ikan lebih banyak.
Sayangnya begitu kembali tiba dipantai, ikan2 yang berhasil ditangkap pasti sudah mati. Busuk lagi. Akhirnya mereka mencari solusi agar ikan2 yang telah ditangkap tetap hidup. Dibawalah es yang banyak di kapal sehingga saat kembali ikan2 yang ditaruh dalam es tidak busuk. Namun ikan ini ditolak oleh para pembeli karena walau tidak busuk tapi juga tidak segar. Ini mah ikan beku. Lalu dicari solusi lain agar ikan2 tetap hidup ketika sampai di pantai. Dibuatlah tong2 besar yang ketika di laut dalam diisi dengan ikan2 tangkapan. Tong2 tersebut lalu ditarik dengan posisi tetap berada di air.
Ikan2 hasil tangkapan yang dibawa dengan tong masih hidup. Tapi lemas. :)
Dasar orang Jepang, masih gak puas juga karena orang sana benar2 mendambakan makan ikan yang super segar dengan menjaga kelincahan si ikan. Mungkin pengaruh ke rasanya kali ya. Maka dilakukanlah solusi lain. Yaitu memasukkan seekor ikan hiu kecil kedalam tong2 tersebut. Ikan2 hasil tangkapan sampai dipantai dengan segar dan kuat. Tetap ada yang mati tapi sangat sedikit dan pastinya tujuan tercapai : mendapat ikan super segar.
Sang hiu kecil imut itu adalah masalah.

Kisah Kelinci

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci itu berkata:
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Rubah jantan merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.
Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata :
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang serigala merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.
Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata:
"Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Beruang merasa tertantang,
"Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.
Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan!!"
Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata
"Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."
The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara
The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.
Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama:
(MESKIPUN) DENGAN SESEORANG YANG KELIHATANNYA TIDAK LEBIH BAIK DARI KITA

Minggu, 14 Oktober 2012

Kisah Teladan

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?”  sang Guru bertanya.
“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya” jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu” kata Sang Guru.
“Setelah itu coba kau minum airnya sedikit”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya??” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang kau ikut aku” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau” perintah sang Guru.
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. “Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid” begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau itu” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar, segar sekali…” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
“Tentu saja,,, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutmu. Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak sama sekali..” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
“Nak,,,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah” Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu jadi sebesar danau.... Dan selalulah bisa mempunyai hati yg selalu bisa mengucap syukur untuk segala hal yg terjadi dalam hidup kita” 

Cilongok Bersholawat

Assalamu'alaikum....
Alhamdulillah.. sudah hampir setengah tahun tidak menulis pada blog tercinta ini...
Bukan karna sudah tak cinta, namun karena kecintaan akan membaca dan memposting pada blog yang lain, akhirnya blog ini sedikit terbengkalai...
Ada banyak cerita yang sebenarnya ingin sekali diceritakan, mulai dari kegiatan harian Jam'iyyah hingga kegiatan tahunan yang belum lama ini terlaksana dengan sukses, Alhamdulillah... namun waktu dan kesempatan serta mood juga yang masih jadi penghalangnya…
Sedikit yang bisa kami torehkan dalam kesempatan kali ini adalah sebuah moment ketika penulis diberi sebuah kesempatan pada acara Purbalingga Bersholawat sebagai sang juru tembak… hehehe.. juru tembak moment atau dokumentasi… alias Fotografer…
ini dia hasilnya…







Pada hari berikutnya setelah acara Purbalingga Bersholawat, alhamdulilah penulis dan kawan-kawan yang tergabung dalam Grup Hadroh Roudlotul Jannah mendapat kesempatan yang sangat-sangat kami impikan sedari dulu, untuk tampil dalam event bersama Habib Syech bin Abdulqodir Assegaf, walau hanya dalam sesi pra-acara bersama Gus Shofa dan Gus Andre sebagai vokalis Ahbabul Musthofa Kudus, dan Alhamdulillah kami bisa menampilkan performa semampu yang kami bisa dengan hasil yang cukup memuaskan. Inilah kesempatan yang sangat kami banggakan dan sangat kami syukuri, meski masih banyak kekurangan disana-sini namun kami bertekad akan terus mengembangkan bakat serta seni hadroh agar lebih baik dan lebih bermanfaat bagi syi’ar Jam’iyyah kami tercinta , Jam’iyyah Maulid Simtudduror & Mujahadah “Roudlotul Jannah” Kabupaten Banyumas.



Tak terasa kita sekarang sudah hampir tiba pada penghujung tahun 1433 H, kurang lebih sekitar 3 bulan lagi kita akan menjumpai bulan mulia yaitu bulan Rabi’ul Awal atau bulan Kelahiran Nabi kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang mana pada bulan tersebut ( Insya Alloh ) akan ada event atau acara yang akan kami selenggarakan, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Dan Alhamdulillah tadi malam telah terbentuk kepanitiaan untuk mempersiapkan acara dalam rangka memperingati Maulid Nabi Agung Muhammad SAW. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini kami sengaja mempersiapkan acara ini jauh-jauh hari, tak lain agar hasil yang kami capai nanti bisa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada pertemuan pertama ini kami memfokuskan pada pembentukan panitia terlebih dahulu, dan insya Alloh pada kesempatan berikutnya kami akan memusyawarahkan waktu, tempat serta pembicara pada acara Peringatan Maulid Nabi nanti.
Do’a serta dukungan dari para pembaca semua tentunya sangat kami harapkan, agar tujuan serta syi’ar kami ini bisa terlaksana dengan baik dan sukses demi terwujudnya masyarakat Cilongok pada khususnya dan masyarakat Banyumas pada umumnya untuk lebih mencintai dan membuktikan kecintaannya pada Nabi Muhammad SAW.
Amiin Yaa robbal ‘alamin….

Shollu ‘Alaa Nabi Muhammad…..!!!

to be continued…..